PROMO TOPIK
02-22-2016 Dilihat: 2,667
02-09-2016 Dilihat: 2,328
02-08-2016 Dilihat: 2,911
08-11-2015 Dilihat: 3,423
07-05-2015 Dilihat: 2,113


Share:Facebook Twitter
Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
kenzie25
Ribuan Buruh Siap di-PHK
Jakarta – Ribuan buruh pabrik akan menghadapi risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) menyusul rencana penutupan usaha PT Panasonic Lighting di Cikarang, Jawa Barat, dan Pasuruan, Jawa Timur, serta PT Toshiba Indonesia di Cikarang dalam waktu dekat ini. Sementara Menaker M Hanif Dhakiri akan memanggil sejumlah perusahaan dan melakukan verifikasi terkait rencana PHK tersebut.

“Hal ini akan berdampak pemutusan hubungan kerja terhadap ribuan pekerja. Sekitar 2.500 pekerja akan di-PHK,” ujar Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal kepada pers di Jakarta, Selasa (2/2).

Menurut Said, ribuan pekerja itu terdiri atas sekitar 1.700 anggota KSPI di PT Panasonic dan 970 anggota KPSI di PT Toshiba. “Mereka yang mengadu bakal diputus hak kerjanya,” katanya. Sayangnya, Said tidak membawa data lengkap yang merinci anggotanya yang terancam PHK.

Saat ini, menurut dia, KSPI dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia masih bernegosiasi tentang masalah pesangon dengan perusahaan. Tutupnya dua perusahaan Jepang itu, kata dia, tidak hanya berimplikasi bagi pemutusan hak kerja, tapi juga terhadap kepercayaan investasi. "Sekelas Toshiba dan Panasonic, itu akan menimbulkan pertanyaan investor di seluruh dunia. Akibatnya, investor menunggu," ujarnya.

Penutupan pabrik Toshiba dan Panasonic, ujar Iqbal, mengakibatkan investasi terlambat masuk dan ekonomi melambat. Hal inilah yang, kata dia, membuat daya beli buruh menurun. "Saya juga tidak yakin target kuartal pertama pertumbuhan ekonomi 5,3% tercapai,” ujarnya.

Said mengatakan, sinyal negatif terhadap investasi di Indonesia berawal dari pabrik otomotif Ford Indonesia dan Opel Indonesia yang yang sebelumnya hengkang dari Indonesia. Selang 2 bulan kemudian, giliran raksasa industri elektronik Toshiba di Cikarang secara resmi menutup pabriknya di Indonesia, dan tersisa Toshiba Printer di Batam.

"Toshiba televisi, kurang lebih 900 orang buruh akan berpotensi di PHK yang tutup hari ini resmi (mulai bulan April secara resmi tutup). Pabrik ini adalah pabrik televisi terbesar setelah Jepang," ujarnya.

Berikutnya, menurut dia, raksasa yang kedua adalah Panasonic, yaitu Panasonic lighting (Panasonic Denco). Dua pabriknya resmi ditutup, di Pasuruan (600 orang buruh di PHK) dan di kawasan EJIP Cikarang (sekitar 1000 orang buruh di PHK).‎ Jumlah ‎yang di-PHK kurang lebih 2500 orang buruh dari Toshiba dan Panasonic. Secara bersamaan, tutupnya pabrik tersebut dibarengi dengan investasi dari Tiongkok, yang merupakan proyek mercusuar. Investasi Tiongkok membawa buruh unskill, seperti operator, supir forklift, juru masak dll.

Di tempat terpisah, Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri akan memanggil beberapa perusahaan dan melakukan verifikasi terkait rencana Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ribuan karyawan yang akan dilakukan dalam waktu dekat.
“Ini lagi diperiksa semua, perusahaan yang terkait akan dipanggil dan yang di daerah juga dikonfirmasi,” kata Menaker saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Selasa (2/2).

Menaker belum bisa memberikan klarifikasi lebih lanjut mengenai PHK yang menurut rencana akan dilakukan perusahaan energi Chevron, perusahaan elektronik Panasonic dan Toshiba maupun perusahaan otomotif Ford.

Hak Karyawan

Namun, ia memastikan, apapun alasan dari PHK tersebut, pemerintah akan melakukan upaya agar hak para karyawan yang dirugikan bisa terpenuhi dan solusi terbaik bisa ditemukan bagi yang terkena dampak.

“Kita pastikan dulu rencana PHK mereka seperti apa, dan hak-hak pekerjanya bagaimana. Terus kita cari solusi, kalau memang PHK itu sudah terjadi,” kata Menaker.

Meskipun demikian, Menaker bisa memahami apabila PHK tersebut dilakukan oleh perusahaan yang terkait dengan bidang energi seperti migas, karena harga minyak dunia saat ini sedang mengalami kelesuan.

“Kalau migas terus terang hari ini memiliki tantangan cukup besar terkait penurunan harga minyak dunia. Ini harus diantisipasi terus. Kita berkoordinasi dengan kementerian teknis terkait dan perusahaan disana,” jelasnya.

Sementara, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengaku belum mendapatkan informasi mengenai perusahaan yang ingin melakukan PHK karena adanya kesulitan bisnis maupun operasional.

Dia mengatakan, hal terbaik yang bisa dilakukan pada saat ini agar iklim investasi tetap bertahan dalam situasi sulit adalah dengan memberikan kemudahan dalam perizinan berusaha dan perbaikan deregulasi peraturan.


“Kita melakukan perbaikan iklim usaha, merevisi Daftar Negatif Investasi (DNI), membuat izin tiga jam dalam Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dan memberikan insentif tax allowance dan tax holiday,” ujarnya.

Sebelumnya Menteri Perindustrian Saleh Husin menganggap tutupnya operasional PT Ford Motor Indonesia (FMI) tidak mengherankan, karena kompetitornya di Indonesia tidak hanya menjual mobil, namun juga memproduksi komponen otomotif.

“Sudah tentu Ford kalah bersaing karena kompetitornya memproduksi komponen di Indonesia. Para pabrikan itu membangun industri komponen di sini karena mereka bervisi panjang, serius,” ujarnya dalam siaran pers beberapa waktu lalu.

Untuk itu, Saleh mengajak seluruh produsen otomotif yang ada di Indonesia untuk mendorong pengembangan industri komponen untuk mendongkrak industri otomotif.

Dalam hal ini, pemerintah memberikan insentif berupa Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP) untuk impor bahan baku pembuatan komponen.“Langkah itu berpengaruh pada harga jual kendaraan bermotor yang menggunakan komponen tersebut,” ujar Menteri Saleh.

Selain itu, ia juga mengajak produsen otomotif menjadikan Indonesia sebagai basis produksi jika ingin menang dalam persaingan pasar otomotif Tanah Air.

Terkait langkah Ford yang memilih hengkang, Saleh mengatakan hal tersebut tidak akan berpengaruh terhadap industri otomotif nasional. “Ford hanya mengimpor mobil dari pabriknya di Thailand, maka tidak menimbulkan tidak akan ada dampaknya bagi industri otomotif nasional,” ujarnya.


Selain itu, selama ini keberadaan Ford di Indonesia tidak didukung dengan industri komponen. Hal ini berbeda dengan industri kendaraan bermotor lain yang juga membangun struktur industri komponen di Indonesia.

sumber : neraca
Kutip

Komentar
Untuk komentar silahkan ...
---atau---

Loncat forum ke: