PROMO TOPIK
02-22-2016 Dilihat: 2,602
02-09-2016 Dilihat: 2,274
02-08-2016 Dilihat: 2,837
08-11-2015 Dilihat: 3,350
07-05-2015 Dilihat: 2,050


Share:Facebook Twitter
Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
danubeblue
[Zuhairi Misrawi] Nafsu AS Memerangi Iran
Rencana Amerika Serikat menyerang Iran dalam beberapa minggu terakhir menyita perhatian dunia. Pasalnya, rencana tersebut akan menjadi bola liar yang akan berdampak secara luar biasa dalam peta geopolitik global.

Di sisi lain, rencana Donald Trump tidak populer di mata sekutunya. Negara-negara Eropa yang selama ini selalu bersekongkol dengan AS lebih memilih jalan lain dalam persoalan dinegosiasi nuklir dengan Iran. Di samping itu, Cina, Rusia, dan Turki memilih untuk bersama-sama membangun hubungan baik dengan Iran.

Meskipun begitu, Trump sepertinya tidak main-main untuk menghukum Iran. Pihaknya akan menyediakan 120.000 tentara dalam rencananya menyerang Iran. Dalam kacamata Trump, Iran merupakan ancaman serius bagi Timur-Tengah. Dan yang menjadi rujukan Trump, seperti biasanya adalah Israel dan negara-negara Teluk, khususnya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.


Trump secara sengaja mengabaikan fakta yang lebih besar bahwa untuk saat ini kesepakatan nuklir yang ditandatangani beberapa negara Eropa lainnya merupakan jalan tengah dalam membangun stabilitas politik di kawasan Timur-Tengah. 

Langkah yang diambil Obama pada saat itu merupakan terobosan besar untuk membangun sikap saling menghormati (mutual respect) dan saling menguntungkan (mutual interest) di antara Iran dan negara-negara Barat, khususnya AS dan Eropa. Intinya, perang bukanlah solusi untuk mewujudkan stabilitas politik di kawasan Timur-Tengah. Dan Iran mempunyai peran strategis untuk mewujudkan perdamaian, karena terlalu berat dampak yang disebabkan sikap konfrontatif dengan Iran.

Namun sekali lagi, AS di masa Trump ini berbeda seratus persen. Keberpihakan yang membabi-buta terhadap Israel, sebagaimana ditunjukkan dengan memindahkan Kedutaan Besar Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem telah menandai sebuah irasionalitas dalam kebijakan luar negeri AS dalam merespons dinamika politik di kawasan Timur-Tengah. 

Narasi Trump sejalan dengan narasi Israel yang menganggap Iran sebagai satu-satunya negara yang dapat menjadi ancaman serius. Israel memandang Iran sebagai satu-satunya negara yang selama ini tidak mau diajak berunding. Alih-alih, Iran justru memberikan dukungan penuh terhadap Hamas di Jalur Gaza, Palestina. 

Senjata yang digunakan oleh Hamas dalam menyerang Israel ditengarai merupakan rudal-rudal buatan Iran. Bahkan, Iran secara terbuka menggelar forum-forum regional dalam rangka kemerdekaan Palestina dan perlawanan terhadap Israel. Komitmen Iran terhadap kelompok perlawanan Palestina dikomando langsung oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. 

Trump juga ditengarai mengikuti keinginan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memandang Iran sebagai ancaman serius bagi kawasan Teluk. Iran menjadi negara yang tidak mau didikte oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Bahkan, Iran terus memperluas pengaruhnya di kawasan Timur-Tengah.

Dalam hal ini, rencana Trump tidak bisa dianggap sebagai gertakan biasa. Trump mempunyai mitra strategis di kawasan Timur-Tengah yang menganggap Iran sebagai ancaman serius. Dan jika perang itu dilakukan oleh Trump, maka akan menjadi petaka global, karena dampaknya tidak akan sederhana.

Faktanya, Iran di masa kini bukan Iran di masa lalu. Iran di masa kini merupakan Iran yang mempunyai kekuatan militer tangguh. Bahkan, kekuatan Iran setara dengan Turki. Tidak hanya itu, seluruh warga Iran sudah mempunyai spirit dan kekuatan yang sama, bahwa AS dan Israel merupakan musuh utama yang harus diperangi bersama-sama.

Ayatullah Ali Khamenei secara santun selalu mengatakan tidak akan memerangi AS. Tapi jika AS memerangi Iran, maka tidak ada pilihan lain kecuali mempertahankan diri dan memerangi AS dan sekutu-sekutunya. Sikap etis Khamenei ini sebenarnya sejalan dengan etika perang dalam Islam, bahwa kita tidak diperbolehkan memerangi orang lain. Kita hanya diperintahkan untuk mempertahankan diri dan membalas serangan dengan tidak berlebih-lebihan.

Dalam hal ini, sekali lagi, Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab mestinya harus berhati-hati, bahwa perang melawan Iran yang digencarkan AS harus menggunakan kalkulasi yang tepat. Sebab jika AS yang sampai saat ini belum mendapatkan dukungan penuh dari kongres, plus negara-negara sekutunya akan menjadi bumerang.

Nafsu AS memerangi Iran sebenarnya hanya nafsu Trump demi menyenangkan Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Trump tidak memperhatikan kalkulasi yang lebih besar perihal kemungkinan-kemungkinan yang lebih besar dari dampak yang tidak terelakkan dari perang.

Iran yang mendapat dukungan penuh dari Rusia, Turki, dan Qatar telah menjelma sebagai kekuatan baru di Timur-Tengah. Dan istimewanya, Iran selalu menggunakan kalkulasi diplomasi politik sebagai cara untuk mengambil jalan tengah yang lebih membawa kemaslahatan. Karenanya, Iran terus membangun aliansi dan komunikasi dengan negara-negara besar, seperti Cina dan negara-negara Amerika Latin.

Dengan demikian, nafsu AS memerangi Iran akan menjadi bola panas yang perlu mendapatkan perhatian. Di satu jangkauan perang akan luas, karena tidak hanya melibatkan Iran an sich. Perang tersebut kalau terjadi akan melibatkan negara-negara strategis, seperti Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Di samping itu, Iran tidak akan berdiam diri untuk menghadapi tantangan Trump tersebut. Iran akan mendapatkan dukungan penuh dari warganya, karena sejak Revolusi Islam pada 1979, Iran satu-satunya negara yang konsisten menolak intervensi AS di kawasan Timur-Tengah.

Karena itu, sebelum ini menjadi kiamat baru. Perlu kearifan dan diplomasi yang akan memberikan harapan perdamaian di Timur-Tengah. Donald Trump perlu memikirkan dampak-dampak terburuk dari perang terhadap Iran. Di antaranya karena Timur-Tengah saat ini sedang menghadapi konflik yang tidak berkesudahan, seperti yang terjadi di Yaman, Libia, Suriah, dan Sudan. Karenanya memerangi Iran sebisa mungkin dihindari untuk stabilitas kawasan Timur-Tengah.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Jakarta

sumber :
https://news.detik.com/kolom/d-4562485/n...rangi-iran

jadi perang ato tdk, ntah tertulis dlm loh mahfoz Sleepy
( diedit: 05-24-2019, 02:55 AM )
Kutip

Komentar
Untuk komentar silahkan ...
---atau---

Loncat forum ke: