ingin mengulas hal ini, saat melihat info ttg seorang alkoholik yg frustasi dan ingin eutanasia. yaitu sbb:
https://health.detik.com/read/2016/11/30...untik-mati
kasus2 sebelumnya biasanya adl orang yg sakit parah.
& banyak varian dari eutanasia, yg ingin saya tanggapi dlu adl yg sukarela = persetujuan pasien
secara umum pendapat saya adl :
sedikit persen setuju (diplomatis sekali kan haa2

)
kita coba melihat scr komprehensif,
kita mulai ambil dari sudut pandang agama dulu (wah sensitif nih, tenang ... kita coba lihat agama scr sehat)
eutanasia sering di kaitkan dng bunuh diri
& agama melarang bunuh diri, titik
eh, ... ternyata ada yg bom bunuh diri. (oke jangan dibahas panjang lebar).
agama melarang membunuh, tanpa 'alasan yg di benarkan'
mentafsir 'alasan yg di benarkan' ini juga akan panjang lebar. pending ah ...
bunuh diri = frustasi, putus harapan. lha punya Tuhan kok putus harapan, berarti tdk yakin = tdk beriman (wuih tafsirnya kasar amat ya

) , paling ga pasrah kek.
lha ga kuat menahan sakit, bunuh diri aja. wait .. wait.. kata agama : sakit itu menghapus dosa.
klo ga percaya agama gmn? lha udah ga percaya, cemen menahan sakit. mon2
oke balik ke kasus diatas ttg si alkoholik yg memilih euthanasia, krn frustasi, ga mau merepotkan keluarga, atau mungkin malah membahayakan orang lain ketika ga sadar pas mabuk
selama mampu, keluarga yg bertanggung jawab tentu akan membantu. krn ini adl bentuk amalan baik dari yg bersangkutan. jika sungkan berarti = melarang orang lain berbuat baik.
& jika keluarga tdk mampu & tdk bertanggung jawab itu lain hal. ga perlu dipikir oleh pelaku, mikir sendiri aja kuwalahan.
lha tentang kemungkinan, membahayakan orang lain gmn?
berikut 'pelajaran' dr sebuah kisah dari sumber agama :
'alkisah ada guru yg sedang membunuh seseorang. lha si murid menanyakan prilaku sang guru. lalu gurunya menjelaskan bahwa seseorang yg telah dibunuh itu dimasa depan bisa membahayakan banyak orang (guru kan biasanya sakti, mampu menerawang)'
nah dari kisah tadi, mungkin bisa dijadikan varian tafsir. jika memang cenderung atau kemungkinan besar bisa membahayakan banyak orang. permintaan euthanasia (atau malah tanpa persetujuan pasien) bisa di jadikan kebijakan yg berwenang.
dari kisah inilah saya muncul pendapat =
sedikit persen setuju. tapi penerapannya tdk serampangan tentunya.
tapi dari kasus diatas, mungkin belajar dari indonesia. misal bisa di pasung dulu ato gimana. ato pemerintah menyediakan tempat semisal lingkungan berolahraga, aktifitas dll
bersambung