![[Image: analytics5f0e481bb5f9b.jpg]](https://forex-images.ifxdb.com/userfiles/20200715/analytics5f0e481bb5f9b.jpg)
Gambaran pasangan GBP/USD. 15 Juli. "Gelombang musim dingin" virus corona di Inggris dapat mengorbankan 120.000 orang. Defisit anggaran AS tumbuh ke level rekor.
Relevance up to 08:00 2020-07-16 UTC+8 Timeframe 4 jam Detail teknikal: Linear regression channel atas: arah - naik. Linear regression channel bawah: arah - naik. Moving average (20; smoothed) - sideways. CCI: -121.2859 Pound Inggris, berbeda dengan mata uang Eropa, diperdagangkan lebih rendah pada Selasa, 14 Juli. Di satu sisi, alasan untuk ketidaksenambungan dua pasangan mata uang tersebut bisa jadi adalah statistik makroekonomi dari Inggris, yang ternyata cukup lemah. Di sisi lain, statistik yang sama lemahnya dari zona euro diabaikan oleh pelaku pasar, jadi kesimpulan tersebut tidak dapat dianggap jelas. Perlu juga dicatat bahwa sifat pergerakan kedua pasangan beberapa bulan terakhir benar-benar berbeda. Mata uang euro menghabiskan bulan lalu dalam pergerakan kenaikan yang lemah atau sideways. Sementara pound diperdagangkan dengan sangat aktif dan tidak diam di tempat. Pada waktu yang sama, posisi pound Inggris dalam pasar valuta asing-lah yang sekarang tampak paling lemah karena ketidakpastian yang terkait dengan hubungan Uni Eropa dan Inggris di masa depan, serta penurunan ekonomi Inggris yang sangat kuat sebagai hasil dari pandemi dan Brexit. Namun, mata uang Inggris secara berkala menunjukkan pertumbuhan, yang kami kaitkan dengan kedaruratan epidemiologi di AS, serta krisis politik dan ekonomi di negara tersebut. Seperti yang kami tulis sebelumnya, Fed menurunkan suku bunga acuan "hampir ke nol", jadi kekuatan kebijakan moneter dari kedua negara ini setara. Dolar AS tidak lagi memiliki keunggulan mutlak yang sebelumnya dimilikinya. Statistik makroekonomi dari Inggris mengecewakan trader. GDP pada bulan Mei tercatat sebesar +1,8%, meskipun trader mengharapkan akan melihat setidaknya +5% setelah kegagalan -20,4% sebulan sebelumnya. Produksi industri, seperti di Uni Eropa, turun 20% dalam skala tahunan, dimana angka ini dapat diterima oleh para pelaku pasar. Paket statistik seperti ini tidak dapat menyebabkan pound Inggris menguat. Oleh karena itu, laporan GDP dapat menciptakan tekanan tambahan pada pound Inggris. Selain itu, kabar negatif terus berdatangan dari isu Brexit. Menurut survei, hanya seperempat perusahaan Inggris yang sepenuhnya siap untuk mengakhiri masa transisi dan beralih ke rezim perdagangan UE dibawah peraturan WTO.
Read more: https://www.ifxreal.com/forex_analysis/254858

Facebook