PROMO TOPIK
02-22-2016 Dilihat: 2,302
02-09-2016 Dilihat: 2,043
02-08-2016 Dilihat: 2,456
08-11-2015 Dilihat: 2,940
07-05-2015 Dilihat: 1,786


Share:Facebook Twitter
Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
gazmen
Wah, Saksi-saksi Ungkap 12 Kejanggalan Kecelakaan Setya Novanto
[Image: 745]
Saksi di persidangan mengungkapkan berbagai kejanggalan pada kecelakaan Setya Novanto.

TABLOIDBINTANG.COM - Saksi-saksi yang dihadirkan jaksa dalam sidang dengan terdakwa Bimanesh Sutarjo, dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, mengungkapkan berbagai kejanggalan terkait kecelakaan yang dialami Setya Novanto, pada November 2017. Berikut keterangan saksi dalam sidang Bimanesh.
1. Fredrich Yunadi Pesan Kamar sebelum Kecelakaan
Pelaksana tugas (Plt) Manajer Pelayanan Medik Rumah Sakit Medika Permata Hijau, dokter Alia, mengatakan Fredrich Yunadi, yang saat itu masih menjadi pengacara Setya Novanto, memesan kamar untuk kliennya sebelum kecelakaan mobil terjadi.

Alia mengatakan dirinya ditelepon dokter yang merawat Setya yakni Bimanesh Sutarjo pada pukul 14.00 untuk memberitahukan bahwa Setya akan dirawat di rumah sakit. Alia mengatakan setelah itu ia berbincang dengan Fredrich yang saat itu meminta disiapkan ruang rawat VIP untuk Setya.
2. Dokter Bimanesh Minta Jarum Infus hanya Ditempel
Supervisor Keperawatan Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Indri Astuti, mengaku diperintahkan oleh dokter Bimanesh Sutarjo agar jarum infus Setya Novanto hanya ditempelkan saja.
“Dokter Bima mengatakan kepada saya, ‘pasang infusnya ditempel saja ya’, begitu,” kata Indri menirukan perkataan Bimanesh saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Senin, 2 April 2018.
3. Setya Novanto Minta Kepalanya Diperban padahal Cukup Diberi Salep
Indri mengatakan Setya Novanto meminta dirinya diperban usai mengalami kecelakaan mobil November 2017. Padahal, menurut Indri, luka di kepala Setya hanya lecet dan cukup diberikan salep.
“Pak Setya bilang ‘kapan saya diperban?’. Saya kaget karena sebelumnya dia diam saja sejak dibawa ke ruang perawatan,” kata Indri di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Senin 2 April 2018. Indri mengatakan Setya meminta diperban dengan cara membentak.
4. Bimanesh Ubah Diagnosis Setya setelah Didatangi Fredrich
Indri mengatakan saat pertama kali masuk RS, Setya didiagnosis mengalami hipertensi dan vertigo. Namun Dokter Bimanesh, menurut Indri, mengubah diagnosis untuk Setya menjadi trauma kapitis. Trauma kapitis merupakan cedera di daerah kepala yang terjadi akibat benturan benda tumpul.
Menurut Indri, sesaat sebelum diagnosis Setya itu diubah, dokter Bimanesh Sutarjo bertemu dengan Fredrich Yunadi. Indri melihat Fredrich datang menyerahkan dokumen hasil lab dan foto radiologi ke Bimanesh.
5. Bimanesh Minta Perawat Buang Surat Diagnosis Setya yang Lama
Sebelum diagnosis Setya diubah, Indri sempat meminta konfirmasi kepada Bimanesh apakah akan membuat surat diagnosis yang baru. Bimanesh kemudian mengiyakan dan menyuruh Indri membuang surat diagnosis yang lama.
“Kebetulan saya bawa dua surat, yang satu yang sudah diisi, yang satu kosong. Bimanesh bilang surat yang pertama dibuang saja. Ya, sudah, saya buang,” kata Indri.
6. Perawat Pergoki Setya Novanto Bisa Kencing Berdiri Sehari Setelah Kecelakaan
Perawat Rumah Sakit Medika, Permata Hijau, Indri Astuti, mengaku sempat memergoki Setya Novanto berdiri tegak padahal sehari sebelumnya masih terbaring lemas akibat kecelakaan.
“Jam 6 pagi saya masuk ke kamar, saya lihat bapak itu (Setya) berdiri tegak sedang buang air kecil di tempat pipis atau urinal,” kata Indri saat menjadi saksi untuk terdakwa Bimanesh Sutarjo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Senin, 2 April 2018.
7. Setya Novanto Pura-pura Lemas setelah Ketahuan Kencing Berdiri
Melihat Setya selesai buang air kecil, Indri kemudian bergegas membantu Setya untuk kembali ke tempat tidur. Namun dia mengatakan Setya kaget melihat ada orang yang datang.
Mengetahui ada orang yang masuk, menurut dia, gelagat Setya langsung berubah, dari yang sebelumnya berdiri tegak menjadi lemas dan lunglai. “Dia merebahkan badannya dengan susah payah ke ranjang, padahal tadinya berdiri tegak,” kata Indri.
8. Setya Novanto Menggunakan Bantal setelah Kecelakaan
Perawat Rumah Sakit Medika Permata Hijau Apri Sudrajat melihat Setya Novanto terbaring di brankar di dekat pintu masuk rumah sakit dengan tubuh tertutup selimut.
Biasanya, kata Apri, pasien kecelakaan yang dibaringkan di atas brankar tak memakai bantal. Apri mengatakan pemberian bantal dapat memperburuk luka dalam pasien kecelakaan. "Kami selalu berikan posisi rata tanpa bantal untuk mencegah kalau-kalau ada luka dalam. Itu ada di SOP," ujarnya.
9. Setya Novanto Langsung Dibawa ke Ruang VIP Tanpa Melalui IGD
Perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Medika Permata Hijau Apri Sudrajat mengatakan dirinya diperintahkan Bimanesh agar Setya Novanto langsung dibawa ke ruang VIP 323 tanpa melalui IGD.
Padahal sesuai prosedur yang berlaku, seseorang yang mengalami kecelakaan harus dibawa ke IGD terlebih dahulu sebelum menuju ruang VIP.
10. Setya Novanto Kecelakaan tetapi Dirawat Dokter Spesialis Ginjal
Setya Novanto ketika mengalami kecelakaan mobil disebutkan mengalami benturan kepala sehingga hilang kesadaran. Namun, ketika dilarikan di Rumah Sakit Permata Hijau, Setya ditangani Bimanesh yang merupakan dokter spesialis hipertensi, ginjal dan penyakit dalam.
Menurut dokter Alia yang merupakan bekas Plt Manajer Pelayanan Medik RS Medika Hijau, Setya seharusnya dirawat oleh dokter spesialis syaraf.
11. Setya Novanto Diinfus Pakai Jarum Anak-anak karena Pembuluh Darahnya Tidak Terlihat
Supervisor Keperawatan Rumah Sakit Medika Permata Hijau Indri Astuti mengaku menusukkan jarum infus anak-anak berukuran 24 ke tangan kanan Setya Novanto. Indri mengaku menggunakan jarum infus untuk anak-anak karena kesulitan mencari pembuluh darah Setya.
12. Luka Setya Novanto Tidak Sebesar Bakpao
Perawat Rumah Sakit Medika Permata Hijau Indri Astuti mengatakan benjolan di dahi kiri Setya Novanto tidak sebesar bakpao, tetapi kuku jari orang dewasa.
“Saya lihat saat itu hanya ada dua benjolan sebesar kuku saya, memanjang di dahi kiri,” kata Indri saat menjadi saksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kamis 5 April 2018.



Source : https://www.tabloidbintang.com/berita/pe...ya-novanto
Kutip

Komentar
Untuk komentar silahkan ...
---atau---

Loncat forum ke: