PROMO TOPIK
02-22-2016 Dilihat: 1,543
02-09-2016 Dilihat: 1,496
02-08-2016 Dilihat: 1,456
08-11-2015 Dilihat: 2,068
07-05-2015 Dilihat: 1,108


Share:Facebook Twitter
Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
randruin
Filosofi Nasi Tumpeng
[Image: SF1612300000000009.png]

Setiap daerah di berbagai penjuru nusantara mempunyai adat serta tradisi yang berbeda-beda saat mengadakan prosesi acara atau perayaan tertentu, seperti syukuran, riungan, ataupun untuk memperingati acara istimewa lainnya. Dalam suatu adat, biasanya menghadirkan berbagai makan khas, baik sebagai simbol atau sekadar sajian untuk dikonsumsi. Di antara banyaknya tradisi yang dilaksanakan, khususnya dalam budaya serta adat Jawa dan Bali, nasi berbentuk kerucut atau yang akrab dengan sebutan nasi tumpeng merupakan satu hal yang wajib adanya. Meskipun, seiring berjalannya waktu tidak selalu demikian. 

Di antara berbagai macam olahan nasi khas nusantara, nasi tumpeng merupakan salah satu yang begitu populer dan terkenal. Hidangan tersebut memiliki nilai-nilai dasar serta filosofis yang lekat kaitannya dengan keadaan alam Indonesia, hal ini juga menjadi sebuah simbol keadaan geografis Indonesia sebagai negara dengan daerah yang terdapat banyak sekali gunung serta pegunungan. Menurut beberapa sumber, dikatakan bahwa sejarah lahirnya tumpeng adalah sebagai perwujudan kemuliaan gunung sebagai tempat tinggal serta bersemayam para Hyang atau arwah para puyang (leluhur dan nenek moyang) manusia. Akan tetapi, seiring bergulirnya waktu, bentuk nasi yang dibuat berbentuk kerucut sebagai bentuk tiruan Gunung Mahameru. Hal ini dipengaruhi hadirnya budaya Hindu di nusantara. Selanjutnya, saat Islam ikut masuk, keberadaan hidangan ini menjadi simbolisasi adanya filosofi Islam Jawa.

Di sumber lainnya dikatakan bahwa kata nasi tumpeng itu sendiri berasal dari pepatah Jawa yang mengatakan, “Yen mlebu kudu sing kenceng”, artinya “jika masuk mesti sungguh-sungguh”. Dalam penyajiannya, hidangan tersebut dihias dengan berbagai jenis lauk-pauk seperti ayam, telur, tempe, dan lain-lain. Jumlah lauk-pauk yang tersaji biasanya ada 7 macam; angka 7 dalam bahasa Jawa adalah pitu, sebagai simbol pertolongan (pitulung) yang dipercayai orang-orang pada masa itu. Keragaman lauk-pauk pada nasi yang satu ini juga sebagai sebuah perlambangan kerumitan kehidupan manusia. Namun, kehadiran nasi berbentuk kerucut yang pada awalnya sebagai lambang wujud syukur kepada Sang Hyang Widi atau Yang Maha Kuasa, kini sudah beralih fungsi menjadi pengganti kue ulang tahun pada perayaan pesta ulang tahun. 

Restaurant Dapur Solo
Kutip

Komentar
Untuk komentar silahkan ...
---atau---

Loncat forum ke: